Aku menemukanmu
Dari rerimbun pergerakan
Dari gelombang yang tercipta oleh kehidupan
Dari cahaya yang menundukkan kegelapan
Maka izinkan aku menjadi bintang paling terang dihatimu
Dan kan kubiarkan kau menjajah hatiku sejauh yang Allah izinkan
Aku menemukanmu
Saat langit tak selalu biru
Saat bunga bermekaran
Saat ku terjaga dari bayangan
Dan kau telah mendamaikan mata jiwaku
Sebelum kau mendamaikan mata ragaku
Aku menemukanmu
Dan waktu bersaksi
Bahwa kita ditakdirkan untuk bersatu
Mendayung bahtera di kehidupan yang fana
Agar kelak kita berlabuh disurga
Untuk cinta yang ditakdirkan bersatu.... barakallahu laka ya
Jumat, 28 November 2008
Doa Deklarasi PK
Sewaktu masih sekolah, saya punya buku catatan yang menemani saya pengajian. Buku itu berwarna biru dengan lambang partai keadilan dimana - mana. Disetiap lembaranya ada kutipan hadis atau ayat. Dibelakangnya ada doa yang dipanjatkan ketika deklarasi di masjid al Azhar. Doa ini saya temukan lagi disebuah milis karena bukunya sendiri sekarang sudah tersimpan dalam kardus...
Doa dilantunkan oleh K.H. Rahmat Abdullah pada Deklarasi Partai Keadilan
Lapangan Masjid Agung Al-Azhar Jakarta, 09 Agustus 1998
Ya ALLAH, berikan taqwa kepada jiwa-jiwa kami dan sucikan dia.
Engkaulah sebaik-baik yang, mensucikannya.
Engkau pencipta dan pelindungnya
Ya ALLAH, perbaiki hubungan antar kami
Rukunkan antar hati kami
Tunjuki kami jalan keselamatan
Selamatkan kami dari kegelapan kepada terang
Jadikan kumpulan kami jama'ah orang muda yang menghormati orang tua
Dan jama'ah orang tua yang menyayangi orang muda
Jangan Engkau tanamkan di hati kami kesombongan dan kekasaran terhadap sesama hamba beriman
Bersihkan hati kami dari benih-benih perpecahan, pengkhianatan dan kedengkian
Ya ALLAH, wahai yang memudahkan segala yang sukar
Wahai yang menyambung segala yang patah
Wahai yang menemani semua yang tersendiri
Wahai pengaman segala yang takut
Wahai penguat segala yang lemah
Mudah bagimu memudahkan segala yang susah
Wahai yang tiada memerlukan penjelasan dan penafsiran
Hajat kami kepada-Mu amatlah banyak
Engkau Maha Tahu dan melihatnya
Ya ALLAH, kami takut kepada-Mu
Selamatkan kami dari semua yang tak takut kepada-Mu
Jaga kami dengan Mata-Mu yang tiada tidur
Lindungi kami dengan perlindungan- Mu yang tak tertembus
Kasihi kami dengan kudrat kuasa-Mu atas kami
Jangan binasakan kami, karena Engkaulah harapan kami
Musuh-musuh kami dan semua yang ingin mencelakai kami
Tak akan sampai kepada kami, langsung atau dengan perantara
Tiada kemampuan pada mereka untuk menyampaikan bencana kepada kami
"ALLAH sebaik baik pemelihara dan Ia paling kasih dari segala kasih"
Ya ALLAH, kami hamba-hamba- Mu, anak-anak hamba-Mu
Ubun-ubun kami dalam genggaman Tangan-Mu
Berlaku pasti atas kami hukum-Mu
Adil pasti atas kami keputusan-Mu
Ya ALLAH, kami memohon kepada-Mu
Dengan semua nama yang jadi milik-Mu
Yang dengan nama itu Engkau namai diri-Mu
Atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu
Atau Engkau ajarkan kepada seorang hamba-Mu
Atau Engkau simpan dalam rahasia Maha Tahu-Mu akan segala ghaib
Kami memohon-Mu agar Engkau menjadikan Al Qur'an yang agung
Sebagai musim bunga hati kami
Cahaya hati kami
Pelipur sedih dan duka kami
Pencerah mata kami
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Nuh dari taufan yang menenggelamkan dunia
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Ibrahim dari api kobaran yang marak menyala
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Musa dari kejahatan Fir'aun dan laut yang mengancam nyawa
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Isa dari Salib dan pembunuhan oleh kafir durjana
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Muhammad alaihimusshalatu wassalam dari kafir Quraisy durjana, Yahudi pendusta, munafik khianat, pasukan sekutu Ahzab angkara murka
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Yunus dari gelap lautan, malam, dan perut ikan
Ya ALLAH, yang mendengar rintihan hamba lemah teraniaya
Yang menyambut si pendosa apabila kembali dengan taubatnya
Yang mengijabah hamba dalam bahaya dan melenyapkan prahara
Ya ALLAH, begitu pekat gelap keangkuhan, kerakusan dan dosa
Begitu dahsyat badai kedzaliman dan kebencian menenggelamkan dunia
Pengap kehidupan ini oleh kesombongan si durhaka yang membuat-Mu murka
Sementara kami lemah dan hina, berdosa dan tak berdaya
Ya ALLAH, jangan kiranya Engkau cegahkan kami dari kebaikan yang ada pada-Mu karena kejahatan pada diri kami
Ya ALLAH, ampunan-Mu lebih luas dari dosa-dosa kami
Dan rahmah kasih sayang-Mu lebih kami harapkan daripada amal usaha kami sendiri
Ya ALLAH, jadikan kami kebanggaan hamba dan nabi-Mu Muhammad SAW di padang mahsyar nanti
Saat para rakyat kecewa dengan para pemimpin penipu yang memimpin dengan kejahilan dan hawa nafsu saat para pemimpin cuci tangan dan berlari dari tanggung jawab
Berikan kami pemimpin berhati lembut bagai Nabi yang menangis dalam sujud malamnya tak henti menyebut kami, ummati ummati, ummatku ummatku
Pemimpin bagai para khalifah yang rela mengorbankan semua kekayaan demi perjuangan
Yang rela berlapar-lapar agar rakyatnya sejahtera
Yang lebih takut bahaya maksiat daripada lenyapnya pangkat dan kekayaan
Ya ALLAH, dengan kasih sayang-Mu Engkau kirimkan kepada kami da'i penyeru iman kepada nenek moyang kami penyembah berhala
Dari jauh mereka datang karena cinta mereka kepada da'wah
Berikan kami kesempatan dan kekuatan, keikhlasan dan kesabaran untuk menyambung risalah suci dan mulia ini kepada generasi berikut kami
Jangan jadikan kami pengkhianat yang memutuskan mata rantai kesinambungan ini dengan sikap malas dan enggan berda'wah karena takut rugi dunia dan dibenci bangsa
Doa dilantunkan oleh K.H. Rahmat Abdullah pada Deklarasi Partai Keadilan
Lapangan Masjid Agung Al-Azhar Jakarta, 09 Agustus 1998
Ya ALLAH, berikan taqwa kepada jiwa-jiwa kami dan sucikan dia.
Engkaulah sebaik-baik yang, mensucikannya.
Engkau pencipta dan pelindungnya
Ya ALLAH, perbaiki hubungan antar kami
Rukunkan antar hati kami
Tunjuki kami jalan keselamatan
Selamatkan kami dari kegelapan kepada terang
Jadikan kumpulan kami jama'ah orang muda yang menghormati orang tua
Dan jama'ah orang tua yang menyayangi orang muda
Jangan Engkau tanamkan di hati kami kesombongan dan kekasaran terhadap sesama hamba beriman
Bersihkan hati kami dari benih-benih perpecahan, pengkhianatan dan kedengkian
Ya ALLAH, wahai yang memudahkan segala yang sukar
Wahai yang menyambung segala yang patah
Wahai yang menemani semua yang tersendiri
Wahai pengaman segala yang takut
Wahai penguat segala yang lemah
Mudah bagimu memudahkan segala yang susah
Wahai yang tiada memerlukan penjelasan dan penafsiran
Hajat kami kepada-Mu amatlah banyak
Engkau Maha Tahu dan melihatnya
Ya ALLAH, kami takut kepada-Mu
Selamatkan kami dari semua yang tak takut kepada-Mu
Jaga kami dengan Mata-Mu yang tiada tidur
Lindungi kami dengan perlindungan- Mu yang tak tertembus
Kasihi kami dengan kudrat kuasa-Mu atas kami
Jangan binasakan kami, karena Engkaulah harapan kami
Musuh-musuh kami dan semua yang ingin mencelakai kami
Tak akan sampai kepada kami, langsung atau dengan perantara
Tiada kemampuan pada mereka untuk menyampaikan bencana kepada kami
"ALLAH sebaik baik pemelihara dan Ia paling kasih dari segala kasih"
Ya ALLAH, kami hamba-hamba- Mu, anak-anak hamba-Mu
Ubun-ubun kami dalam genggaman Tangan-Mu
Berlaku pasti atas kami hukum-Mu
Adil pasti atas kami keputusan-Mu
Ya ALLAH, kami memohon kepada-Mu
Dengan semua nama yang jadi milik-Mu
Yang dengan nama itu Engkau namai diri-Mu
Atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu
Atau Engkau ajarkan kepada seorang hamba-Mu
Atau Engkau simpan dalam rahasia Maha Tahu-Mu akan segala ghaib
Kami memohon-Mu agar Engkau menjadikan Al Qur'an yang agung
Sebagai musim bunga hati kami
Cahaya hati kami
Pelipur sedih dan duka kami
Pencerah mata kami
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Nuh dari taufan yang menenggelamkan dunia
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Ibrahim dari api kobaran yang marak menyala
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Musa dari kejahatan Fir'aun dan laut yang mengancam nyawa
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Isa dari Salib dan pembunuhan oleh kafir durjana
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Muhammad alaihimusshalatu wassalam dari kafir Quraisy durjana, Yahudi pendusta, munafik khianat, pasukan sekutu Ahzab angkara murka
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Yunus dari gelap lautan, malam, dan perut ikan
Ya ALLAH, yang mendengar rintihan hamba lemah teraniaya
Yang menyambut si pendosa apabila kembali dengan taubatnya
Yang mengijabah hamba dalam bahaya dan melenyapkan prahara
Ya ALLAH, begitu pekat gelap keangkuhan, kerakusan dan dosa
Begitu dahsyat badai kedzaliman dan kebencian menenggelamkan dunia
Pengap kehidupan ini oleh kesombongan si durhaka yang membuat-Mu murka
Sementara kami lemah dan hina, berdosa dan tak berdaya
Ya ALLAH, jangan kiranya Engkau cegahkan kami dari kebaikan yang ada pada-Mu karena kejahatan pada diri kami
Ya ALLAH, ampunan-Mu lebih luas dari dosa-dosa kami
Dan rahmah kasih sayang-Mu lebih kami harapkan daripada amal usaha kami sendiri
Ya ALLAH, jadikan kami kebanggaan hamba dan nabi-Mu Muhammad SAW di padang mahsyar nanti
Saat para rakyat kecewa dengan para pemimpin penipu yang memimpin dengan kejahilan dan hawa nafsu saat para pemimpin cuci tangan dan berlari dari tanggung jawab
Berikan kami pemimpin berhati lembut bagai Nabi yang menangis dalam sujud malamnya tak henti menyebut kami, ummati ummati, ummatku ummatku
Pemimpin bagai para khalifah yang rela mengorbankan semua kekayaan demi perjuangan
Yang rela berlapar-lapar agar rakyatnya sejahtera
Yang lebih takut bahaya maksiat daripada lenyapnya pangkat dan kekayaan
Ya ALLAH, dengan kasih sayang-Mu Engkau kirimkan kepada kami da'i penyeru iman kepada nenek moyang kami penyembah berhala
Dari jauh mereka datang karena cinta mereka kepada da'wah
Berikan kami kesempatan dan kekuatan, keikhlasan dan kesabaran untuk menyambung risalah suci dan mulia ini kepada generasi berikut kami
Jangan jadikan kami pengkhianat yang memutuskan mata rantai kesinambungan ini dengan sikap malas dan enggan berda'wah karena takut rugi dunia dan dibenci bangsa
Kamis, 27 November 2008
Disudut Masjid Sunda Kelapa
Diatas langit tak lagi biru. Senja telah datang memayungi Jakarta. Suasana langit semakin redup karena hujan belum selesai menjalankan amanahnya. Saya bersama Pa Karnain Asyhar, teman sekelas saya yang juga teman satu kantor, berjalan tergesa - gesa menuju kantor Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga yang letaknya bersebelahan dengan kantor kami berdua. Rencananya kami akan menjemput Pa Budiyanto, salah seorang calon pejabat Kemenegpora yang juga sama - sama sedang menempuh pascasarjana dikelas yang sama.
Ceritanya kami bertiga akan berangkat bareng ke kampus. Mirip dengan masa - masa sekolah dulu lah yang kalau mau berangkat saling menjemput dengan teman lainya. Sebenarnya saya dan Pa Karnain bukan menjemput, tapi mendampingi Pa Budiyanto yang memang terkadang membawa mobil pribadinya untuk ke kantor dan ke kampus. Soalnya kalau kami tidak mendampingi Pa Budi, khawatir berurusan dengan polisi karena terkena peraturan jalur Three in one (Satu mobil minimal kudu ada tiga orang).. intinya sih saya dan pa Karnaen dapat fasilitas gratisan menuju kampus he.. he.. he...
Mobil pa Budi menembus kemacetan Jakarta. Berbelok ke arah semanggi, benhil dan terus melaju mengantarkan kami menuju kampus UI Salemba. Namun kumandang adzan Maghrib terlebih dahulu menyergap sebelum kami sampai ke kampus. Dan Adzan tepat menyergap dari sebuah masjid yang berkali - kali saya lewati. Sebuah masjid yang semasa sekolah dulu sering saya dengar namanya lewat majalah An Nida, UMMI atau sabili langganan saya dan teteh. Masjid Sunda Kelapa namanya. Tempat sebuah organisasi remaja masjid yang sering nongol publikasinya di majalah yang saya sebutkan tadi. Organisasinya sendiri bernama Remaja Islam Sunda Kelapa yang biasa disingkat RISKA.
Dengan pasti, mobil memasuki pelataran masjid. Hujan mulai bertranfsformasi menjadi gerimis. Inilah kali kedua kaki saya menginjakkan kaki dimasjid ini. pa Karnain pun demikian. Karena kami menginjakkan kaki di masjid ini kemarin. Masjid ini cukup keren menurut saya. Disebelahnya ada Rumah Sakit Masjid Sunda Kelapa yang meskipun kecil tapi terlihat cukup modern.
Kaki - kaki kami mulai masuk ke halaman masjid. Sangat asri dan teduh. Menyenangkan sekali jika rumah saya kelak bersebelahan dengan masjid seperti ini. Orang - orang sudah banyak yang berwudhu dan menuju ruang sholat diatas. Dibawah sendiri digunakan untuk aula dan beberapa ruangan lain yang saya belum familier.
Diatas, ternyata para jamaah masjid ini sedang menunaikan buka puasa. Subhanallah... saya sendiri jadi malu. Karena hari kamis ini seharusnya saya juga puasa sunnah. Puasa yang menjadi kegemaran Rasulullah SAW. Puasa yang seharusnya juga sudah melekat dalam diri setiap kader yang tergabung dalam barisan partai dakwah tanpa perlu diprogram atau diperintahkan oleh pimpinan partai.
Hati saya terus bergetar, Sama seperti kemarin. Terlebih saat memasuki ruang utama masjid dimana jama'ah juga sebagian sedang shalat sunnah dan sebagian lagi sudah duduk berdzikir menunggu iqamah. Saya berusaha menggapai barisan paling depan, tapi tidak berhasil. Tapi alhamdulillah bisa dapat di barisan kedua. Semoga saja dapat keberkahan.
Saya ikut duduk bersama yang lain menunggu iqamat. Tak henti - hentinya saya memanjatkan doa. Sebuah doa yang semakin intens saya munajatkan akhir - akhir ini. Kalau tidak salah, ada ulama yang memberi nasehat kalau tubuhmu bergetar ketika mengingat Allah, maka bersegeralah berdoa karena saat - saat itulah doa lebih mudah dikabulkan. Ditambah lagi hujan belum berhenti, dan ini adalah waktu antara adzan dan iqamat sehingga semakin tepatlah saat ini untuk berdoa sebanyak - banyaknya.
Iqamat dikumandangkan. Jamaah berdiri dan membuat barisan dengan rapat. Imam mengumandangkan takbir dan suara merdunya mengalunkan ayat - ayat Al Quran hingga menghujam masuk kedalam hati. Alhamdulillah... Meskipun menurut saya, imam hari kemarin jauh lebih syahdu.
Senja yang sangat indah. Alhamdulillah... saya menemukan perjalanan ruhiyah yang menyenangkan di masjid ini. Sebuah perjalan ruhiyah yang tidak setiap saat bisa saya rasakan. Perjalanan ruhiyah yang semoga mengantarkan doa saya lebih cepat untuk dikabulkan. Perjalanan ruhiyah yang semoga bisa teman - teman rasakan juga kalau berkesempatan sholat ditempat ini.
Ceritanya kami bertiga akan berangkat bareng ke kampus. Mirip dengan masa - masa sekolah dulu lah yang kalau mau berangkat saling menjemput dengan teman lainya. Sebenarnya saya dan Pa Karnain bukan menjemput, tapi mendampingi Pa Budiyanto yang memang terkadang membawa mobil pribadinya untuk ke kantor dan ke kampus. Soalnya kalau kami tidak mendampingi Pa Budi, khawatir berurusan dengan polisi karena terkena peraturan jalur Three in one (Satu mobil minimal kudu ada tiga orang).. intinya sih saya dan pa Karnaen dapat fasilitas gratisan menuju kampus he.. he.. he...
Mobil pa Budi menembus kemacetan Jakarta. Berbelok ke arah semanggi, benhil dan terus melaju mengantarkan kami menuju kampus UI Salemba. Namun kumandang adzan Maghrib terlebih dahulu menyergap sebelum kami sampai ke kampus. Dan Adzan tepat menyergap dari sebuah masjid yang berkali - kali saya lewati. Sebuah masjid yang semasa sekolah dulu sering saya dengar namanya lewat majalah An Nida, UMMI atau sabili langganan saya dan teteh. Masjid Sunda Kelapa namanya. Tempat sebuah organisasi remaja masjid yang sering nongol publikasinya di majalah yang saya sebutkan tadi. Organisasinya sendiri bernama Remaja Islam Sunda Kelapa yang biasa disingkat RISKA.
Dengan pasti, mobil memasuki pelataran masjid. Hujan mulai bertranfsformasi menjadi gerimis. Inilah kali kedua kaki saya menginjakkan kaki dimasjid ini. pa Karnain pun demikian. Karena kami menginjakkan kaki di masjid ini kemarin. Masjid ini cukup keren menurut saya. Disebelahnya ada Rumah Sakit Masjid Sunda Kelapa yang meskipun kecil tapi terlihat cukup modern.
Kaki - kaki kami mulai masuk ke halaman masjid. Sangat asri dan teduh. Menyenangkan sekali jika rumah saya kelak bersebelahan dengan masjid seperti ini. Orang - orang sudah banyak yang berwudhu dan menuju ruang sholat diatas. Dibawah sendiri digunakan untuk aula dan beberapa ruangan lain yang saya belum familier.
Diatas, ternyata para jamaah masjid ini sedang menunaikan buka puasa. Subhanallah... saya sendiri jadi malu. Karena hari kamis ini seharusnya saya juga puasa sunnah. Puasa yang menjadi kegemaran Rasulullah SAW. Puasa yang seharusnya juga sudah melekat dalam diri setiap kader yang tergabung dalam barisan partai dakwah tanpa perlu diprogram atau diperintahkan oleh pimpinan partai.
Hati saya terus bergetar, Sama seperti kemarin. Terlebih saat memasuki ruang utama masjid dimana jama'ah juga sebagian sedang shalat sunnah dan sebagian lagi sudah duduk berdzikir menunggu iqamah. Saya berusaha menggapai barisan paling depan, tapi tidak berhasil. Tapi alhamdulillah bisa dapat di barisan kedua. Semoga saja dapat keberkahan.
Saya ikut duduk bersama yang lain menunggu iqamat. Tak henti - hentinya saya memanjatkan doa. Sebuah doa yang semakin intens saya munajatkan akhir - akhir ini. Kalau tidak salah, ada ulama yang memberi nasehat kalau tubuhmu bergetar ketika mengingat Allah, maka bersegeralah berdoa karena saat - saat itulah doa lebih mudah dikabulkan. Ditambah lagi hujan belum berhenti, dan ini adalah waktu antara adzan dan iqamat sehingga semakin tepatlah saat ini untuk berdoa sebanyak - banyaknya.
Iqamat dikumandangkan. Jamaah berdiri dan membuat barisan dengan rapat. Imam mengumandangkan takbir dan suara merdunya mengalunkan ayat - ayat Al Quran hingga menghujam masuk kedalam hati. Alhamdulillah... Meskipun menurut saya, imam hari kemarin jauh lebih syahdu.
Senja yang sangat indah. Alhamdulillah... saya menemukan perjalanan ruhiyah yang menyenangkan di masjid ini. Sebuah perjalan ruhiyah yang tidak setiap saat bisa saya rasakan. Perjalanan ruhiyah yang semoga mengantarkan doa saya lebih cepat untuk dikabulkan. Perjalanan ruhiyah yang semoga bisa teman - teman rasakan juga kalau berkesempatan sholat ditempat ini.
Rabu, 26 November 2008
Menjadi PNS
Kemaren, saya mendampingi atasan menerima perwakilan dari forum tenaga honorer dari sebuah instansi. Mereka menyuarakan aspirasinya karena hak mereka yang seharusnya diangkat menjadi PNS malah menerima surat yang intinya merumahkan mereka. Ada yang sudah bekerja selama 23 tahun sebagai honorer, tetapi sampai detik ini malah belum diangkat sebagai PNS. Ufff Indonesiaku.
Dikoran - koran, televisi bahkan juga melihat langsung ketika akan masuk kantor, para demonstran yang terdiri dari guru - guru honorer juga menuntut hal yang serupa. Diangkat menjadi PNS. Konon khabarnya juga para pemimpin desa menuntut hal serupa.
Didaerah saya juga sekarang sedang ramai pendaftaran calon PNS. Banyak SMS yang masuk dari teman - teman saya menanyakan apakah saya ikut menjadi salah satu pendaftar calon PNS. Dirumah saya sering didesak dan disindir untuk daftar jadi PNS.
PNS kini bergeliat. Profesi yang satu ini semakin banyak dilirik orang. Ada ragam motivasi kenapa kini menjadikan pegawai pemerintah alias pamong praja alias abdi negara alias PNS sebagai profesi primadona. Kata orang - orang yang serius daftar profesi ini, jadi PNS itu enak. Gajinya terjamin, dapet dana pensiun, kerjanya nyantai, jam pulangnya pasti, ga khawatir di PHK, ada banyak peluang dapat duit tambahanya pula.
Hmmm... wajar kalau banyak yang mulai bermimpi jadi PNS. Lha dengan fasilitas seabrek begitu, setidaknya nasibnya lebih tenang daripada buruh yang gampang dapat PHK dan cuma dapat pesangon tanpa ada tunjangan pensiun. Apalagi menjadi PNS tidak ada waktu kerja malam hari.
Meski dikejar banyak orang, ternyata tidak semua penduduk negeri ini yang berminat jadi PNS. Katanya, menjadi PNS itu ga seru. Ga ada tantanganya, terjebak rutinitas dan membosankan. Ada juga yang malas jadi PNS karena katanya jadi PNS itu sama aja dengan pengangguran yang makan duit rakyat. Kerjanya cuma duduk aja, baca koran, main game, kalau ada rakyat yang minta dilayanin pelayananya ga ramah sekali. PNS yang harusnya menjadi pamong praja alias pelayan rakyat malah pengen lebih dihargai dari rakyatnya sendiri. Belum lagi yang suka nerima amplop sogokan, kepentingan rakyat bisa sangat terabaikan. Setali tiga uang deh dengan tuduhan miring kepada wakil rakyat. Pelayan rakyat dan wakil rakyat sama - sama membebani rakyat. Belum lagi ditambah dua lagi yaitu para pengadil rakyat dan penjaga rakyat. Lengkap sudah mereka yang seharusnya meringankan beban rakyat malah jadi pembeban rakyat.
Tapi tentu saja yang digambarin diatas, ga sepenuhnya benar. Masih ada kok PNS yang benar - benar bekerja untuk rakyat. Yang menolak duit sogokan, menolak berbagai fasilitas yang tidak seharusnya mereka terima, yang masuk dan keluar kerja sesuai jam kerjanya bahkan membawa kerjaanya kerumah. Mereka benar - benar menjalankan fungsinya sebagai pelayan rakyat. Begitu juga dengan wakil rakyat dan pengadil rakyat. Masih ada kok yang pro kepentingan rakyat.
Menjadi PNS buat saya sama saja dengan berprofesi halal sebagai apapun. Semuanya kembali keniat awal dan kesadaran bahwa bekerja itu ibadah dan profesi itu adalah amanah. Dan setiap amanah akan dimintakan pertanggungjawabanya. Orang - orang yang bekerja dengan niat menikmati berbagai fasilitas kemudahan, berpotensi besar untuk mengkhianati amanah. Mereka yang ingin menjadi PNS karena terbayang bakal kerja enak, gaji jelas tiap bulanya, peluang besar dari pendapatan sampingan, status sosial yang terhormat dan sejenisnya, bisa jadi berakhir dengan kehidupan yang jauh dari bahagia dan ketenangan karena sudah menjelma menjadi drakula - drakula yang menghalalkan segala cara untuk hidup enak. Bukan itu saja, merekapun akan merasakan pahitnya hidup dibalik penjara.
Namun para PNS yang bekerja dengan penuh amanah, tentu saja mereka berpeluang besar menikmati surga yang indah karena mereka telah bekerja memudahkan rakyat. Meringankan beban rakyat. Melayani rakyat. Meski gaji mereka hanya sekedar cukup untuk menjalankan amanah dengan profesional. Seperti guru - guru, dokter, tentara dan lainya yang bekerja didaerah terpencil. Gaji sebagai PNS manalah cukup untuk hidup enak. Tapi saya yakin mereka telah hidup tenang kelak disurga nanti.
Dikoran - koran, televisi bahkan juga melihat langsung ketika akan masuk kantor, para demonstran yang terdiri dari guru - guru honorer juga menuntut hal yang serupa. Diangkat menjadi PNS. Konon khabarnya juga para pemimpin desa menuntut hal serupa.
Didaerah saya juga sekarang sedang ramai pendaftaran calon PNS. Banyak SMS yang masuk dari teman - teman saya menanyakan apakah saya ikut menjadi salah satu pendaftar calon PNS. Dirumah saya sering didesak dan disindir untuk daftar jadi PNS.
PNS kini bergeliat. Profesi yang satu ini semakin banyak dilirik orang. Ada ragam motivasi kenapa kini menjadikan pegawai pemerintah alias pamong praja alias abdi negara alias PNS sebagai profesi primadona. Kata orang - orang yang serius daftar profesi ini, jadi PNS itu enak. Gajinya terjamin, dapet dana pensiun, kerjanya nyantai, jam pulangnya pasti, ga khawatir di PHK, ada banyak peluang dapat duit tambahanya pula.
Hmmm... wajar kalau banyak yang mulai bermimpi jadi PNS. Lha dengan fasilitas seabrek begitu, setidaknya nasibnya lebih tenang daripada buruh yang gampang dapat PHK dan cuma dapat pesangon tanpa ada tunjangan pensiun. Apalagi menjadi PNS tidak ada waktu kerja malam hari.
Meski dikejar banyak orang, ternyata tidak semua penduduk negeri ini yang berminat jadi PNS. Katanya, menjadi PNS itu ga seru. Ga ada tantanganya, terjebak rutinitas dan membosankan. Ada juga yang malas jadi PNS karena katanya jadi PNS itu sama aja dengan pengangguran yang makan duit rakyat. Kerjanya cuma duduk aja, baca koran, main game, kalau ada rakyat yang minta dilayanin pelayananya ga ramah sekali. PNS yang harusnya menjadi pamong praja alias pelayan rakyat malah pengen lebih dihargai dari rakyatnya sendiri. Belum lagi yang suka nerima amplop sogokan, kepentingan rakyat bisa sangat terabaikan. Setali tiga uang deh dengan tuduhan miring kepada wakil rakyat. Pelayan rakyat dan wakil rakyat sama - sama membebani rakyat. Belum lagi ditambah dua lagi yaitu para pengadil rakyat dan penjaga rakyat. Lengkap sudah mereka yang seharusnya meringankan beban rakyat malah jadi pembeban rakyat.
Tapi tentu saja yang digambarin diatas, ga sepenuhnya benar. Masih ada kok PNS yang benar - benar bekerja untuk rakyat. Yang menolak duit sogokan, menolak berbagai fasilitas yang tidak seharusnya mereka terima, yang masuk dan keluar kerja sesuai jam kerjanya bahkan membawa kerjaanya kerumah. Mereka benar - benar menjalankan fungsinya sebagai pelayan rakyat. Begitu juga dengan wakil rakyat dan pengadil rakyat. Masih ada kok yang pro kepentingan rakyat.
Menjadi PNS buat saya sama saja dengan berprofesi halal sebagai apapun. Semuanya kembali keniat awal dan kesadaran bahwa bekerja itu ibadah dan profesi itu adalah amanah. Dan setiap amanah akan dimintakan pertanggungjawabanya. Orang - orang yang bekerja dengan niat menikmati berbagai fasilitas kemudahan, berpotensi besar untuk mengkhianati amanah. Mereka yang ingin menjadi PNS karena terbayang bakal kerja enak, gaji jelas tiap bulanya, peluang besar dari pendapatan sampingan, status sosial yang terhormat dan sejenisnya, bisa jadi berakhir dengan kehidupan yang jauh dari bahagia dan ketenangan karena sudah menjelma menjadi drakula - drakula yang menghalalkan segala cara untuk hidup enak. Bukan itu saja, merekapun akan merasakan pahitnya hidup dibalik penjara.
Namun para PNS yang bekerja dengan penuh amanah, tentu saja mereka berpeluang besar menikmati surga yang indah karena mereka telah bekerja memudahkan rakyat. Meringankan beban rakyat. Melayani rakyat. Meski gaji mereka hanya sekedar cukup untuk menjalankan amanah dengan profesional. Seperti guru - guru, dokter, tentara dan lainya yang bekerja didaerah terpencil. Gaji sebagai PNS manalah cukup untuk hidup enak. Tapi saya yakin mereka telah hidup tenang kelak disurga nanti.
Selasa, 25 November 2008
Terimakasih Guru
Terbentang sudah cakrawa ilmu. Sejak guru menyentuh huruf - huruf hingga mampu menjadi kata. Terhujam sudah akar - akar ilmu. Sejak guru menyentuh kata - kata hingga menjelma menjadi makna. Terasah sudah nilai - nilai. Sejak guru menyentuh laku dengan moral.
Sejak mula, guru telah menempati tempat terhormat dalam panggung kehidupan. Sosoknya mengaliri kehidupan dengan cinta. Menitiskan ilmu bak mata air yang tak pernah henti mengucur. Terus mengalirkan air hingga jauh menyapa setiap pohon dan tanah gersang.
Sejak mula, guru memang pahlawan tanpa tanda jasa. Karena apalah arti tanda jasa dibanding kebahagiaan ketika murid - murid tersayangnya mampu menjadi sumber kebahagiaanya yang tak pernah habis memenuhi ruang hatinya.
Sejak mula, guru adalah cerita mengenai keteladanan. Lembaran - lembaranya adalah kisah yang tak pernah berakhir mengenai ketulusan yang tak pernah berhenti mengalir. Sebab guru adalah hati seluas samudera.
Sejak mula, guru adalah keajaiban. Cintanya, harapanya, kebahagianya, perhatianya tak jauh berbeda dengan orang tua kandung kita. Sebab guru adalah orangtua yang tak pernah melahirkan kita.
Maka sehelai kata terimakasih ini kusematkan untuk guru - guru saya tercinta. Semoga guru mendapat kebahagiaan sejati. Didunia dan akhirat.
Terimakasih guruku.
Spesial buat Pa Suananto (Alm), Pa Nasehat (Alm), Pa Thohiri (Alm)
Semoga lelahmu tercerai oleh kasih Allah
Sejak mula, guru telah menempati tempat terhormat dalam panggung kehidupan. Sosoknya mengaliri kehidupan dengan cinta. Menitiskan ilmu bak mata air yang tak pernah henti mengucur. Terus mengalirkan air hingga jauh menyapa setiap pohon dan tanah gersang.
Sejak mula, guru memang pahlawan tanpa tanda jasa. Karena apalah arti tanda jasa dibanding kebahagiaan ketika murid - murid tersayangnya mampu menjadi sumber kebahagiaanya yang tak pernah habis memenuhi ruang hatinya.
Sejak mula, guru adalah cerita mengenai keteladanan. Lembaran - lembaranya adalah kisah yang tak pernah berakhir mengenai ketulusan yang tak pernah berhenti mengalir. Sebab guru adalah hati seluas samudera.
Sejak mula, guru adalah keajaiban. Cintanya, harapanya, kebahagianya, perhatianya tak jauh berbeda dengan orang tua kandung kita. Sebab guru adalah orangtua yang tak pernah melahirkan kita.
Maka sehelai kata terimakasih ini kusematkan untuk guru - guru saya tercinta. Semoga guru mendapat kebahagiaan sejati. Didunia dan akhirat.
Terimakasih guruku.
Spesial buat Pa Suananto (Alm), Pa Nasehat (Alm), Pa Thohiri (Alm)
Semoga lelahmu tercerai oleh kasih Allah
Langganan:
Postingan (Atom)
